Bolehkan meluruskan MUI yang melakukan kekeliruan?

Pertanyaan :

assalamu’alaykum warohmatullohi wabarokatuh bila ketua MUI daerah menyatakan di media massa bahwa syi’ah tdk sesat,apakah di benarkan untuk dibantah pernyataan tersebut melalui media massa juga?apakah MUI daerah adl juga termasuk jajaran ulil amri yg tidak boleh disebarkan kesalahan2nya..? [Dwijarwanto|Klaten|Pria|Mahasiswa]

Jawaban :

Wa’alaikumus Salam Warohmatullahi Wabarokatuh

MUI (Majelis Ulama Indonesia) Pusat, sebagaimana dilansir oleh situs resminya, menjelaskan akan penyimpangan Syiah dan perbedaannya dari Ahlus Sunnah. Berikut ini adalah teks fatwa resmi mereka :

Majelis Ulama Indonesia dalam Rapat Kerja Nasional bulan Jumadil Akhir 1404 H./Maret 1984 merekomendasikan tentang faham Syi’ ah sebagai berikut :

Faham Syi’ah sebagai salah satu faham yang terdapat dalam dunia Islam mempunyai perbedaan-perbedaan pokok dengan mazhab Sunni (Ahlus Sunnah Wal Jamm’ah) yang dianut oleh Umat Islam Indonesia. Perbedaan itu diantaranya :

· Syi’ah menolak hadis yang tidak diriwayatkan oleh Ahlu Bait, sedangkan ahlu Sunnah wal Jama’ah tidak membeda-bedakan asalkan hadits itu memenuhi syarat ilmu mustalah hadis.

· Syi’ah memandang “Imam” itu ma ‘sum (orang suci), sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah memandangnya sebagai manusia biasa yang tidak luput dari kekhilafan (kesalahan).

· Syi’ah tidak mengakui Ijma’ tanpa adanya “Imam”, sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ ah mengakui Ijma’ tanpa mensyaratkan ikut sertanya “Imam”.

· Syi’ah memandang bahwa menegakkan kepemimpinan/Pemerintahan (imamah) adalah termasuk rukun agama, sedangkan Sunni (Ahlus Sunnah wal Jama’ah) memandang dari segi kemaslahatan umum dengan tujuan keimamahan adalah untuk menjamin dan melindungi da’wah dan kepentingan ummat.

· Syi’ah pada umumnya tidak mengakui kekhalifahan Abu Bakar as-Siddiq, Umar Ibnul Khatab, dan Usman bin Affan, sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengakui keempat Khulafa’ Rasyidin (Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali bin Abi Thalib).

· Mengingat perbedaan-perbedaan pokok antara Syi’ah dan Ahlus Sunnah wal Jama’ah seperti tersebut di atas, terutama mengenai perbedaan tentang “Imamah” (Pemerintahan)”, Majelis Ulama Indonesia menghimbau kepada ummat Islam Indonesia yang berfaham Ahlus Sunnah wal Jama’ah agar meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan masuknya faham yang didasarkan atas ajaran Syi’ah.

Sumber : http://www.mui.or.id/konten/fatwa-mui/faham-syiah

Fatwa di atas adalah fatwa resmi mereka yang sejauh pengetahuan kami belum ada revisinya sampai saat ini. Adapun pendapat-pendapat dari sebagian oknum MUI yang menyelisihi fatwa di atas dan mendukung Syiah, maka ini merupakan pendapat pribadi mereka, bukan lembaga.

Pernyataan yang salah dan batil, maka wajib dibantah dan dijelaskan kesalahannya. Tentunya dengan cara yang baik dan hikmah. Tidak mengapa menjelaskan kesalahan seorang tokoh ulama atau da’i, baik dari lembaga formal seperti MUI atau selainnya, baik melalui media massa, atau semisalnya, dengan syarat bantahan tersebut harus disertai dengan ilmu dan dengan cara yang baik. Dan lebih baik lagi, apabila kita mengingatkannya dengan cara mendatanginya langsung atau mengiriminya surat nasehat.

Memang benar, ulil amri itu bermakna dua, yaitu ‘umara` (penguasa) dan ulama. Namun, yang dimaksud oleh ahlus sunnah tentang larangan memberontak dan mencela ulil amri adalah terhadap penguasa (umara’) yang memiliki kekuasaan dan kekuatan.

Juga yang patut diperhatikan adalah, tidaklah sama antara mencela dengan memperingatkan atau menjelaskan kebatilan. Memperingatkan dan menjelaskan kebatilan adalah disyariatkan sedangkan mencela, pada asalnya adalah haram. Mengingatkan kesalahan seorang tokoh, apabila menyebutkan kesalahannya saja tanpa menyebutkan orangnya sudah mencukupi, maka ini lebih bermanfaat dan bermaslahat, baik bagi orang yang dikritik maupun bagi ummat. Wallohu a’lam bish showab.

Did you enjoy this post? Why not leave a comment below and continue the conversation, or subscribe to my feed and get articles like this delivered automatically to your feed reader.

Tanggapan

Belum ada tanggapan.

Beri Tanggapan

(Harus Diisi)

(Harus Diisi)