Hukum Beramal dengan Hadits Dha’if

Pertanyaan : “Apa hukumnya beramal dengan hadits dha’if?”

Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab al-Washobi hafizhahullahu menjawab :

”Sebagaimana yang kalian fahami, bahwa hadits itu terbagi menjadi tiga macam : shahih, hasan dan dha’if. Shahih sendiri terbagi menjadi dua yaitu shahih lidzaatihi dan shahih lighoirihi. Hasan juga terbagi menjadi dua yaitu hasan lidzaatihi dan hasan lighoirihi. Dha’if sendiri juga ada dua macam, yaitu dha’if dan dha’if jiddan (lemah sekali). Hadits yang shahih lidzatihi, shahih lighoirihi, hasan lidzatihi dan hasan lighoirihi semuanya diamalkan dan berhujjah dengannya. Tersisa sekarang pembahasan dha’if, adapun dha’if jiddan maka tidak boleh diamalkan dan berhujjah dengannya. Hadist dha’if apabila diperkuat dengan hadits dha’if lainnya dapat terangkat kepada status hasan lighoirihi dan apabila terdapat hadits yang menjadi syahid yang menguatkannya, karena sesungguhnya hadits dha’if itu bermakna bahwa kedhaifannya dapat menjadi pulih kembali, berkebalikan dengan hadits dha’if jiddan yang kedha’ifannya tidak dapat pulih kembali. Apabila hadits dha’if memiliki syahid atau mutabi’ (penyerta) yang memperkuatnya maka saat itu (dapat) menjadi hadits dha’if lidzatihi dan hasan lighoirihi lalu terangkat statusnya maka diamalkan dikarenakan statusnya adalah hasan lighoirihi, dan apabila tidak terdapat hadits yang menguatkannya maka hadits itu tetap atas kedha’ifannya dan tidak dapat berhujjah dengannya.”

Sumber : www.olamayemen.com

Did you enjoy this post? Why not leave a comment below and continue the conversation, or subscribe to my feed and get articles like this delivered automatically to your feed reader.

Tanggapan

Belum ada tanggapan.

Beri Tanggapan

(Harus Diisi)

(Harus Diisi)