Belum Menikah Karena “Aura” Tertutup

Pertanyaan :

ass wr wb, saya mau tanya, umur saya sekarang sudah 26 tahun tetapi belum juga menikah. kata orang aura saya tertutup dan agar aura saya terbuka bagaimana caranya selain saya harus ketempat orang yang pintar membuka aura seseorang. saya mohon, keluhan saya ini cepat dapat solusinya dari pak ustad. Terimakasih (Eka Prasetya|Pekanbaru|Wanita|Mahasiswa)

Jawaban :

Wa’alaikumus Salam warohmatullahi wabarokatuh

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam kita sampaikan kepada Nabi Muhammad, keluarga para sahabat dan mereka yang mengikutinya dengan baik.

Dalam mengarungi kehidupan yang penuh suka dan duka ini, kita harus “membekali diri kita dengan ilmu-ilmu agama” yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah yang shahih (valid) dengan pemahaman para sahabat Nabi, terutama berkenaan dengan permasalahan akidah/keyakinan dalam hati. Kita telah mengenal apa itu rukun iman, yaitu beriman kepada Allah, beriman kepada para malaikatnya, beriman kepada kitab-kitab-Nya, beriman kepada para Nabi, beriman kepada hari akhir, dan beriman kepada takdir yang baik dan buruk. Dan hendaknya kita tinggalkan ajaran-ajaran ataupun keyakinan-keyakinan yang tidak bersumber dari agama Islam.

Saudari Eka yang dimuliakan Alloh. Sesungguhnya aura dan ilmu melihat aura adalah suatu hal yang tidak ada di dalam Islam. Dan keyakinan aura ini adalah keyakinan yang menyelisihi aqidah Islamiyyah. Kita harus yakin dan beriman dengan taqdir Alloh, bahwa Alloh telah menetapkan bagi Bani Adam ini empat hal semenjak Bani Adam masih berupa janin, yaitu rizqi, ajal (kematiannya), kebahagiaan dan kesengsaraannya. Termasuk juga jodoh, semuanya ada di tangan Alloh.

Saudari Eka yang dirahmati Alloh. Ketahuilah, sesungguhnya Alloh Subhanahu wa Ta’ala itu maha adil. Alloh telah menetapkan rezeki, jodoh dan segalanya. Namun, Alloh juga menciptakan “sebab” dan “ikhtiyar” (upaya) manusia. Kita tidak akan bisa kenyang apabila tidak makan. Untuk kenyang, maka kita perlu sebab, yaitu makan. Dan untuk makan, kita perlu ikhtiyar, yaitu usaha. Sama juga dengan rezeki. Rezeki di tangan Alloh. Namun, seorang hamba tidak akan memperoleh harta begitu saja apabila ia tidak memenuhi sebab-sebab untuk memperolehnya. Diantara sebab memperoleh rezeki adalah berusaha dan bekerja. Setelah kita berusaha dan bekerja, maka Alloh akan menganugerahkan rezeki kepada kita.

Saudari Eka yang disayangi Alloh. Ketahuilah, ikhtiyar atau upaya manusia itu ada dua. Ada yang disyariatkan dan ada pula yang menyelisihi syariat. Misalnya, untuk memperoleh rezeki, kita perlu berusaha. Nah, di dalam usaha ini, ada usaha yang baik, seperti kita bekerja yang halal, dan adapula usaha yang buruk, seperti kita mencuri, korupsi, dan lain-lain. Di sinilah Alloh menilai seseorang, yaitu dari hasil usahanya. Apabila usahanya dengan cara yang baik, niscaya Alloh berikan dia kebaikan di dunia dan akhirat, dan apabila usahanya dengan cara yang buruk, niscaya Alloh berikan dia keburukan di dunia dan akhirat.

Jodoh juga demikian, kita harus berupaya untuk mencari jodoh kita. Tentunya dengan cara yang syar’i, tidak dengan pacaran atau semisalnya, atau datang ke paranormal minta jampi-jampi atau dibukakan aura, atau semisalnya. Kita bisa minta tolong ustadz atau teman yang kita kenal untuk mencarikan jodoh/suami. Dan sebaik-baik suami adalah suami yang shalih dan bertanggung jawab. Janganlah kita dikecoh dengan ucapan-ucapan atau keyakinan-keyakinan orang yang tidak mengenal agama. Mengatakan bahwa kita belum mendapatkan jodoh dengan sebab aura, primbon atau semisalnya. Ini semua adalah keyakinan yang menyelisihi Islam. Berusahalah, niscaya Alloh akan memudahkan urusan Saudari Eka…

Untuk menentramkan dan menenangkan hati yang gelisah karena belum menikah, hendaknya saudari bisa lebih mendekatkan diri kepada Allah ta’ala dengan cara :

1. Memperdalam pemahaman ilmu agama kita, dengan cara membaca Al-Quran dan tafsirnya, membaca buku-buku para ulama dan da’i yang beraqidah dan bermanhaj lurus. Mengikuti pengajian yang mengajarkan Islam sesuai dengan pemahaman salaf. Misalnya begini : Tatkala anda tertimpa gundahgulana, anda cari ayat-ayat dan hadis-hadis berkenaan dengan sabar, istiqomah dalam kebenaran. Dan kitab yang paling mudah membimbing kita dalam masalah ini adalah kitab Riyadhus Shalihin. Saudari cari dalam kitab itu bahasan tentang Sabar, atau istiqomah. Setelah membaca dan merenungkan maknanya insya Allah iman anda akan bertambah dan kuat menjalani hidup ini.

2. Mengamalkan ilmu yang kita pelajari tadi. Misalnya tatkala kita mempelajari al-Qur’an dan mencari ayat-ayat takdir kita jumpai ayat 22-23 surat al-Hadid (surat ke 57)

مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS Al-Hadid : 22-23)

Setelah membaca ayat itu hendaknya kita berusaha mengimaninya bahwa semua kejadian telah tertulis dalam “lauh al-mahfuzh“, dan kita berusaha dan tidak berputus asa serta berharap kepada Allah agar Dia memberikan kepada kita kebaikan dalam segala keadaan.

3. Berdoa, hendaknya kita banyak menghafalkan doa-doa yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadis yang shahih, membaca wirid-wirid pagi dan petang yang diajarkan kepada Nabi.Misalnya kita berdoa mohon kesabaran sebagaimana yang diajarkan al-Qur’an dalam ayat 250 surat al-Baqarah ;

رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْراً

“Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami.” (QS al-Baqoroh : 250)

Atau doa Nabi Yunus tatkala beliau berada dalam perut ikan, beliau mengucapkan

لاَ إِلَهَ إِلَّا أَنتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

“Tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.”

Semoga jawaban ini bermanfaat, wallahu ta’ala ‘alam.

Did you enjoy this post? Why not leave a comment below and continue the conversation, or subscribe to my feed and get articles like this delivered automatically to your feed reader.

Tanggapan

Belum ada tanggapan.

Beri Tanggapan

(Harus Diisi)

(Harus Diisi)